Desain dan Warna Baru Jas Almamater UPI Disambut Protes Dari Mahasiswa
Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI), sejak pendiriannya pada tahun 1954, telah membangun
reputasi yang kokoh sebagai salah satu lembaga pendidikan ternama di Indonesia.
Salah satu ciri khas yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas
kampus adalah jas almamater berwarna abu-abu. Warna ini bukan sekadar sembarang
pilihan, melainkan memiliki makna filosofis yang mendalam, mencerminkan
nilai-nilai ketenangan, kestabilan, dan kecerdasan yang dijunjung tinggi oleh
UPI. Namun, pada tanggal 10 Agustus 2023, sebuah keputusan yang kontroversial
diumumkan melalui Surat Majelis Wali Amanat Nomor B-235/UN40.MWA/PL.00.01/2023,
mengubah tidak hanya desain jas almamater UPI, tetapi juga warnanya yang kini
menjadi dominan merah.
Reaksi atas
perubahan ini sangat beragam dan intens. Para mahasiswa, para alumni, dan
berbagai pihak yang terkait dengan UPI ada sebagian yang merasakan tidak terima.
Diskusi pun banyak bermunculan di media sosial dan area kampus.
Dan kita tak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa perubahan ini telah
memicu perdebatan dari berbagai elemen di lingkungan kampus.
Seiring
berjalannya waktu, jas almamater berwarna abu-abu telah menjadi ikon visual
yang mengidentifikasikan mahasiswa UPI. Masing-masing lipatan jas itu membawa
cerita dari generasi ke generasi, dari perjuangan mahasiswa dalam mencapai
cita-cita akademik hingga momen-momen tak terlupakan di kampus. Jas itu telah
menjadi pengingat kuat atas nilai-nilai dan budaya kampus yang tak ternilai.
Oleh karena itu, tak heran jika perubahan ini menjadi perdebatan.
Salah satu
dampak paling nyata dari perubahan ini adalah sebagian mahasiswa merasa
kehilangan sepotong identitas yang telah menjadi bagian hidup mereka selama di
UPI. Sebuah jas bukanlah sekadar pakaian formal, melainkan simbol yang
merepresentasikan komunitas, sejarah, dan nilai-nilai yang dijunjung oleh
individu-individu yang mengenakannya. Mahasiswa UPI yang telah mengenakan jas
abu-abu dengan bangga merasakan bahwa warna itu mewakili karakter mereka yang
tenang, stabil, dan cerdas. Selain itu salah satu yang menyebabkan beberapa
mahasiswa UPI tidak setuju dengan perubahan menjadi merah karena banyak kampus
lain yang sudah menggunakan jas merah seperti Universitas Negeri Hasanuddin,
Universitas Tarumanagara, Universitas Tujuh Belas Agustus, Universitas Mercu
Buana, Universitas Telkom, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas
Ciputra.
Bukanlah hal
yang jarang bahwa sebuah institusi pendidikan merasa perlu untuk beradaptasi
dengan perubahan zaman. Dilansir di instagram aliansiupibergerak, sebagai wadah
perjuangan mahasiswa dalam menghargai nilai-nilai kampus, telah mengambil
langkah untuk mengorganisir acara "TIBA TIBA NGOPI." Acara ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berbicara,
berdiskusi, dan menyuarakan pandangan mereka terhadap perubahan ini.
Perlu dicatat
bahwa perubahan warna jas almamater ini juga telah menciptakan perdebatan yang
lebih luas mengenai identitas institusi pendidikan. Sementara beberapa pihak
berpendapat bahwa perubahan adalah langkah yang diperlukan untuk menyegarkan
citra kampus dan menyesuaikan diri dengan tren warna almamater yang lebih umum,
selain itu, ada pula argumen bahwa perubahan warna jas almamater ini dapat
mengaburkan citra kampus di mata masyarakat luas. UPI, sebagai institusi yang
telah menghasilkan banyak tenaga pendidik berkualitas, telah melekat dengan
warna abu-abu dalam ingatan masyarakat. Perubahan tiba-tiba ini bisa memicu
kebingungan di luar kampus, terutama ketika ada acara-acara resmi yang
melibatkan mahasiswa dan jajaran akademik UPI. Identitas yang kohesif dan
konsisten memiliki peran penting dalam membangun citra dan reputasi institusi.


0 Response to "Desain dan Warna Baru Jas Almamater UPI Disambut Protes Dari Mahasiswa"
Posting Komentar